JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Jumat di zona hijau, naik 33,26 poin atau 0,54 persen ke level 6.219,62. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga ikut menguat 2,54 poin (0,41 persen) ke posisi 621,40.
Penguatan ini sejalan dengan mayoritas bursa kawasan Asia yang kompak naik. Indeks Nikkei melesat 4,51 persen, Kospi melonjak 12,45 persen, dan Shanghai menguat 0,83 persen, meski Hang Seng terkoreksi tipis 0,50 persen.
Level Support dan Resistance yang Perlu Dicermati Investor
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, selama IHSG mampu bertahan di atas level 6.160, indeks berpeluang melanjutkan penguatan menuju 6.244. Jika berhasil menembus level tersebut, potensi kenaikan berikutnya terbuka ke kisaran 6.268 hingga 6.315.
Sebaliknya, apabila IHSG kembali turun di bawah 6.160, risiko koreksi menuju support 6.130 hingga 6.080-6.030 perlu diwaspadai pelaku pasar.
Katalis Global: Inflasi AS Melandai dan Konflik Timur Tengah
Dari mancanegara, bank sentral AS The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75 persen untuk kelima kalinya berturut-turut. Namun, tiga anggota FOMC memberikan dissenting vote dengan mengusulkan kenaikan suku bunga 25 basis poin.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kebijakan selanjutnya akan tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi dan inflasi, serta mengurangi penggunaan forward guidance.
Data inflasi inti PCE AS hanya naik 0,1 persen month to month (mtm) pada Juni 2026, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 0,2 persen. Angka ini memperkuat harapan bahwa tekanan inflasi mulai mereda, meski pertumbuhan ekonomi AS melambat dengan PDB kuartal II-2026 hanya tumbuh 1,5 persen, di bawah estimasi 2,1 persen.
Ketegangan di Timur Tengah pasca-konflik AS dan Iran masih menjadi perhatian utama. Risiko gangguan pasokan energi global membuat investor tetap mewaspadai potensi volatilitas pasar, tercermin dari harga minyak Brent yang naik lebih dari 20 persen secara bulanan meski sempat turun 1,43 persen ke sekitar 89 dolar AS per barel.
Harga Emas Naik, Dolar Melemah
Harga emas tercatat naik 0,97 persen ke sekitar 4.105 dolar AS per ons, didorong pelemahan dolar AS dan meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Sentimen Domestik: Dukungan UE dan Putusan MK Soal MBG
Dari dalam negeri, Uni Eropa menegaskan komitmennya mendukung pengembangan transportasi berkelanjutan di Indonesia melalui inisiatif Global Gateway. Salah satu proyek utamanya adalah Surabaya Regional Railway Line (SRRL) dengan pendanaan 236 juta Euro dari KfW Development Bank untuk modernisasi dan elektrifikasi jalur komuter Surabaya-Sidoarjo.
"Langkah ini diharapkan dapat memperkuat konektivitas, mempercepat transisi menuju transportasi rendah karbon, serta meningkatkan daya saing ekonomi nasional," ujar Liza.
Sementara itu, Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak lagi boleh menggunakan anggaran pendidikan paling lambat pada APBN 2028. Pemerintah tetap dapat membiayai program tersebut melalui pos APBN lainnya, meski keputusan ini dinilai sejumlah pihak masih menyisakan tantangan terhadap keberlanjutan pembiayaan program dan kondisi fiskal ke depan.
Wall Street dan Bursa Eropa Kompak Menguat
Bursa Wall Street ditutup menguat pada Kamis (30/07). Indeks S&P 500 naik 1,66 persen ke level 7.437,63, Nasdaq Composite melonjak 3,36 persen ke 28.106,35, dan Dow Jones Industrial Average menguat 1,19 persen ke 52.208,06.
Bursa Eropa juga mayoritas menguat, dengan Euro Stoxx 50 naik 1,48 persen dan DAX Jerman menguat 0,60 persen, sementara FTSE 100 Inggris melemah tipis 0,10 persen.