KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Xavi Hernandez resmi memimpin Timnas Belanda dengan kontrak empat tahun, menjadi pelatih asing pertama sejak 1978. Mantan kapten Spanyol itu ditugaskan menyatukan dua aliran sepak bola yang lama berseteru di negeri Oranje, sekaligus mengakhiri puasa trofi yang berlangsung sejak Euro 1988.
Penunjukan Xavi diumumkan pada September lalu oleh KNVB. Direktur Teknik Nigel de Jong bahkan mengakui bahwa Xavi bukan pilihan utama federasi, melainkan opsi ketiga setelah sejumlah nama lain dipertimbangkan.
Keputusan itu memicu perdebatan di Belanda. Pierre van Hooijdonk termasuk yang paling vokal menolak, mempertanyakan kredibilitas Xavi dan mengapa nama seperti Peter Bosz atau Erik ten Hag tidak dipertimbangkan. Sebaliknya, Rafael van der Vaart menyambut positif kehadiran sosok sebesar Xavi.
Perdebatan soal identitas sudah lama membayangi sepak bola Belanda. Satu kubu mengagungkan Total Football ala Johan Cruyff, yang memberi ruang bagi improvisasi individu dan pertukaran posisi. Kubu lain merujuk pada pendekatan Louis van Gaal di Ajax era 1990-an, di mana struktur kolektif lebih diutamakan daripada ekspresi pribadi.
Ketegangan ini memuncak di turnamen besar. Setelah gagal lolos ke Euro 2016 dan Piala Dunia 2018, Belanda tampil pragmatis dengan formasi tiga bek dan wing-back. Ronald Koeman sempat melepas rem, tetapi kembali ke pola defensif begitu menghadapi lawan berat.
Bahkan kenangan manis Piala Dunia 2010 ternoda oleh taktik negatif di final melawan Spanyol. Xavi ada di lapangan saat itu sebagai kapten Spanyol, ironi yang kini justru menjadi daya tarik tersendiri.
Meski lahir dari sepak bola Spanyol, Xavi dibentuk oleh pengaruh Belanda. Ia menembus tim utama Barcelona di bawah asuhan Van Gaal, kemudian berkembang di era Frank Rijkaard dan Pep Guardiola, yang keduanya mengakar pada gagasan Cruyff.
Saat diperkenalkan, Xavi menyebut dirinya sebagai "putra sepak bola Belanda". Ia mengaku terpengaruh oleh Cruyff dan Rinus Michels, dua arsitek Total Football yang legendaris.
Namun mereka yang berharap melihat tiruan gaya Spanyol kemungkinan akan kecewa. Pendekatan Xavi menyambungkan dua kutub yang lama bertentangan: memaksimalkan ruang sekaligus menjaga struktur.
"Anda butuh penguasaan bola untuk memenangkan pertandingan, tetapi Anda butuh posisi yang tepat," ujar Xavi dalam konferensi pers sebelum laga debutnya melawan Jerman. "Anda butuh persepsi untuk melihat apa yang terjadi di sekitar dan memahami permainan."
Bukti awal menunjukkan arah yang menjanjikan. Dari tiga laga pertama, Belanda rata-rata melepaskan 22 tembakan per pertandingan dan mendominasi penguasaan bola di semua laga.
Melawan Jerman, Belanda tidak hanya menyerang lebih baik tetapi juga bertahan lebih rapi. Mereka memenangi 50 duel berbanding 30 milik lawan dan merebut bola delapan kali lebih banyak.
Laga melawan Yunani menjadi catatan buruk tersendiri. Belanda sempat tertinggal dua gol sebelum akhirnya menyamakan kedudukan, hasil imbang yang menurut banyak pengamat adalah hasil paling minim yang pantas mereka dapatkan.
Xavi tidak ragu mengambil keputusan besar. Di Barcelona, ia berani menyingkirkan Gerard Pique dan Jordi Alba dari starting XI, sekaligus memberi debut kepada Lamine Yamal, Pau Cubarsi, dan Fermin Lopez.
Polanya berlanjut di Belanda. Memphis Depay dan Wout Weghorst sudah dicoret dari skuad, sementara Ruben van Bommel dan Mexx Meerdink mendapat kesempatan. Meerdink membalas kepercayaan itu dengan dua gol ke gawang Serbia.
Gelandang Feyenoord, Gjivai Zechiel, juga mencatatkan debut dan layak dipantau. Joey Veerman, yang tidak dipilih Koeman untuk Piala Dunia, langsung dipercaya menjadi starter melawan Serbia.
Nama Kees Smit, yang saat ini masih memperkuat tim U-21, diprediksi segera menyusul. Begitu pula Frenkie de Jong dan Xavi Simons, yang kehadirannya di skema ini dinanti banyak pihak.
Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah Xavi bisa membawa Belanda juara, melainkan apakah ia mampu menyatukan kembali sebuah bangsa sepak bola dengan identitasnya yang tercabik selama lima dekade.
Bagi penyerang sayap langsung, gaya Xavi menjanjikan ruang gerak lebih luas. Cody Gakpo dan Crysencio Summerville diprediksi menikmati kebebasan yang tidak mereka dapatkan di era sebelumnya.
Jalan menuju Euro 2028 masih panjang. Namun setelah bertahun-tahun pelatih Belanda berangkat ke Barcelona, kini arahnya berbalik. Xavi datang dari sana, membawa gagasan yang mungkin justru menjadi kunci kebangkitan Oranje.