KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — DFSK E5 Plus membuktikan fitur vehicle-to-load (V2L) tetap bisa memasok listrik meski daya baterainya habis total. Mesin bensin 1.500 cc mengambil alih peran generator, jadi perangkat elektronik tetap menyala tanpa perlu cari stasiun pengisian. Klaim ini diperagakan langsung di Banyuwangi dalam rangkaian Media Journey Jakarta-Bali.
Peragaan tersebut berlangsung di Vila So Long, Banyuwangi, dan menjadi bagian dari rangkaian DFSK E5 Plus Indonesia Media Journey rute Jakarta-Bali. Product Expert PT Sokonindo Automobile, Ichsan Aria Putra, yang memandu sesi itu menegaskan bahwa pengguna tidak dibatasi persentase daya tertentu untuk mengaktifkan V2L.
Pada kendaraan plug-in hybrid seperti DFSK E5 Plus, baterai tidak hanya bertugas menggerakkan motor listrik. Baterai itu juga bisa difungsikan sebagai sumber listrik di luar kendaraan, misalnya untuk menyalakan peralatan rumah tangga atau alat elektronik saat berkemah.
Masalahnya, kapasitas baterai pasti menipis. Di titik itulah mesin bensin mengambil alih peran pengisi daya, sehingga pasokan listrik tetap berjalan tanpa bergantung pada stasiun pengisian.
Menurut Ichsan, pengguna tidak dibatasi persentase daya tertentu untuk mengaktifkan fitur tersebut. Artinya, meski indikator baterai menunjukkan nol persen, V2L masih bisa dinyalakan selama ada bahan bakar di tangki.
Infrastruktur pengisian daya di Indonesia belum merata, terutama di luar Jawa. Fitur V2L yang bisa mengandalkan mesin bensin sebagai generator cadangan memberi keleluasaan lebih bagi pengguna yang sering bepergian jauh.
Bayangkan skenario begini: Anda berkemah di area tanpa akses listrik, baterai mobil sudah habis, tapi Anda masih butuh menyalakan lampu atau mengisi daya ponsel. Dengan V2L, mesin bensin akan menyala otomatis untuk memasok listrik.
Konsep ini mirip genset portabel, hanya saja sumbernya berasal dari kendaraan yang memang Anda bawa. Tidak perlu perangkat tambahan, tidak perlu bahan bakar terpisah.
Meski terdengar praktis, ada beberapa hal yang perlu dicermati. Pertama, konsumsi bahan bakar akan meningkat saat mesin bekerja sebagai generator. Efisiensi BBM saat mode ini belum diungkap secara rinci oleh Sokonindo.
Kedua, daya keluaran V2L pada DFSK E5 Plus belum disebutkan angkanya dalam peragaan tersebut. Besaran watt ini menentukan perangkat apa saja yang bisa disuplai, apakah hanya laptop dan lampu atau sampai peralatan berdaya besar.
Ketiga, durasi operasi terus-menerus perlu diuji lebih lanjut. Mesin yang bekerja dalam putaran stabil untuk mengisi daya bisa berbeda karakteristiknya dibanding pemakaian normal.
DFSK E5 Plus masuk ke segmen plug-in hybrid yang mulai ramai di Indonesia. Model ini bersaing dengan sejumlah merek yang menawarkan kombinasi mesin bensin dan motor listrik.
Keunggulan PHEV dibanding EV murni terletak pada fleksibilitas: bisa diisi daya dari colokan rumah, tapi tetap punya mesin bensin sebagai jaring pengaman ketika baterai habis. Fitur V2L menambah nilai tambah karena kendaraan bisa berfungsi ganda sebagai sumber listrik darurat.
Peragaan di Banyuwangi ini setidaknya menunjukkan bahwa DFSK serius memasarkan kemampuan V2L sebagai salah satu daya tarik utama E5 Plus. Namun pengujian independen masih diperlukan untuk memverifikasi klaim ketahanan dan efisiensi dalam pemakaian nyata.