KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Nusa Tenggara Timur menyimpan tiga kluster wisata utama yang tersebar dari pesisir Labuan Bajo hingga desa adat Wae Rebo dan Wologai. Penguatan desa wisata menjadi perhatian karena keterbatasan infrastruktur dan aksesibilitas masih menghambat pengembangan destinasi lokal. Potensi ekonomi kreatif warga, seperti kerajinan biji kopi dan kakao asal Ende, disebut sudah menembus ajang fesyen internasional.
Putra Pariwisata Nusantara NTT 2026, Gilang Adi Prakasa, memetakan potensi wisata daerah itu ke dalam tiga kluster dalam acara "Obrolan Akamsi" RRI Pro 4 Kupang, Senin 21 September 2026. Pemetaan ini menegaskan bahwa kekuatan pariwisata NTT tidak bertumpu pada satu destinasi saja. Kluster pertama adalah wisata alam yang membentang dari kawasan pesisir hingga Danau Kelimutu dan Labuan Bajo.
Kluster kedua adalah wisata budaya yang hidup di desa-desa adat seperti Wae Rebo dan Wologai. Kluster ketiga adalah wisata sejarah, dengan Situs Bung Karno di Kabupaten Ende sebagai rekam jejak lahirnya Pancasila. Ketiga kluster ini tersebar di daratan Flores dan sekitarnya, sehingga perjalanan antardestinasi menuntut perencanaan matang.
Wisata alam NTT mencakup pesisir, Danau Kelimutu, dan Labuan Bajo. Wisata budaya terkonsentrasi di desa adat Wae Rebo dan Wologai. Sementara wisata sejarah berpusat di Situs Bung Karno, Ende.
"NTT bukan hanya indah dari sisi alamnya, tetapi juga sangat kaya akan budaya, sejarah, serta keramahan masyarakatnya yang menjunjung tinggi toleransi," ujar Gilang.
Masyarakat di sejumlah desa wisata Ende mulai mengolah hasil bumi berupa biji kopi dan kakao, tidak hanya untuk konsumsi tetapi juga menjadi produk kerajinan. Biji kopi dirangkai menjadi gelang dan kalung bernilai seni tinggi. Produk ini bahkan berhasil menembus ajang Thailand Fashion Week.
Gilang menyebut sinergi tiga pilar utama dibutuhkan untuk membangun potensi wisata daerah: kesiapan modal, menjaga kualitas produk, serta perluasan relasi antarpemangku kepentingan. Tanpa ketiganya, produk kerajinan warga berisiko berhenti di pasar lokal.
Keterbatasan infrastruktur dan aksesibilitas masih menjadi kendala utama di sejumlah destinasi lokal NTT. Tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat desa wisata adalah minimnya wadah dan pendampingan untuk mengolah potensi lokal. Kondisi ini membuat sebagian potensi desa belum tergarap optimal.
Gilang mengajak generasi muda NTT aktif melakukan promosi digital melalui media sosial. Ia mengingatkan agar kampanye pariwisata selalu diimbangi dengan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dari sampah. Advokasi "Lontar Education" disebut terus mengedukasi masyarakat dan mengajak komunitas muda turun langsung menjaga kebersihan di area wisata.
"Melalui advokasi 'Lontar Education', kami terus mengedukasi masyarakat dan mengajak komunitas muda turun langsung menjaga kebersihan di area wisata," pungkasnya.
Bagi traveler yang merencanakan perjalanan ke NTT, tiga kluster ini bisa dijadikan kerangka menyusun itinerary. Kombinasikan wisata alam di Labuan Bajo atau Kelimutu dengan kunjungan ke desa adat dan situs sejarah Ende, lalu tutup dengan membeli kerajinan kopi atau kakao olahan warga. Informasi terkini soal akses jalan, jadwal transportasi antarkota, dan paket desa wisata dapat dikonfirmasi via dinas pariwisata setempat sebelum berangkat.