Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Kunci Kesehatan Ibu dan Anak

Penulis: Afrizal Hidayat  •  Selasa, 22 September 2026 | 13:24:01 WIB
Survei menyebut sekitar 25 persen anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah secara fisik maupun emosional.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Survei terbaru menyebut sekitar 25 persen anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah secara fisik maupun emosional. Padahal, keterlibatan ayah dalam pengasuhan terbukti mendukung kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak. Berikut penjelasan lengkapnya.

Dosen Kesehatan Reproduksi Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan UNSOED, Nur Intan Kartika Sari, S.Tr.Keb., M.P.H., menyoroti kondisi fatherless yang dinilainya semakin fenomenal di Indonesia. Ia menyampaikan hal ini dalam Program Pengarusutamaan Gender Pro 1 RRI Purwokerto bertema "Keterlibatan Ayah dalam Kesehatan Ibu dan Anak".

Menurut Intan, pengasuhan anak masih sering dianggap sebagai tugas utama ibu, sementara ayah ditempatkan sebagai pencari nafkah. Padahal, pengarusutamaan gender mendorong pembagian peran yang lebih seimbang dalam keluarga.

Apa Itu Fatherless dan Mengapa Penting Dibahas

Istilah fatherless merujuk pada kondisi anak yang tidak memperoleh kehadiran ayah, bukan hanya secara fisik tetapi juga emosional. Intan menyebut kondisi ini dialami sekitar satu dari empat anak di Indonesia.

"Jadi tentang keterlibatan ayah dalam kesehatan ibu dan anak ini sangat menarik kita bahas karena seperti yang kita ketahui ini beberapa waktu ini sangat fenomenal adanya survei ternyata Indonesia ini mengalami kondisi fatherless di mana ayah itu tidak hadir dalam pengasuhan anak dan itu terkait kasusnya itu sekitar satu dari empat anak atau sekitar 25 persen di Indonesia," ujar Intan.

Kehadiran ayah yang minim tidak hanya berdampak pada anak. Ibu yang menjalankan pengasuhan seorang diri berisiko mengalami beban mental dan fisik yang lebih berat.

Ayah dan Ibu adalah Mitra Setara dalam Pengasuhan

Intan menegaskan keterlibatan ayah bukan berarti menghilangkan peran ibu. Keduanya adalah mitra yang bertanggung jawab bersama menciptakan keluarga sehat.

"Karena di dalam pengarusutamaan gender ini, keterlibatan ayah dalam kesehatan ibu dan anak itu menempatkan istri ataupun perempuan, ibu dalam hal ini dan juga ayah itu menjadi partner, mitra dalam bertanggung jawab bersama untuk pengasuhan anak demi menciptakan keluarga yang sehat," jelasnya.

Dengan pembagian tanggung jawab yang jelas, pengasuhan tidak sepenuhnya dibebankan kepada ibu. Ayah pun tidak hanya berfokus pada pekerjaan dan kebutuhan finansial semata.

Cara Ayah Terlibat Meski Sibuk Bekerja

Kehadiran emosional ayah bisa diwujudkan lewat hal sederhana sehari-hari. Mulai dari mengajak anak bicara, mengetahui perasaannya, bermain bersama, hingga mendengarkan ceritanya.

Bagi ayah yang bekerja di luar kota atau luar negeri, teknologi bisa menjadi jembatan. Video call atau voice note membantu anak tetap merasakan kehadiran ayah meski berjauhan.

"Jadi kita bisa memanfaatkan digitalisasi misalkan video call atau mungkin voice note. Jadi anak itu tetap bisa merasakan kehadiran ayah meskipun dengan jarak yang jauh sehingga anak ini tidak merasakan kecemasan ataupun anak ini bisa berkomunikasi dengan baik," tegas Intan.

Ayah yang jauh dari keluarga tetap perlu mengikuti perkembangan anak, termasuk kondisi pertumbuhan dan pola makan pada masa 1.000 hari pertama kehidupan.

Kualitas Waktu Lebih Penting daripada Durasi

Untuk pasangan yang sama-sama bekerja, Intan menilai orang tua tidak harus selalu berada di sisi anak selama 24 jam. Yang lebih penting adalah kualitas kehadiran saat waktu bersama tersedia.

"Nah, kira-kira apa yang bisa kita lakukan adalah sebenarnya anak itu tidak menuntut kita hadir secara 24 jam penuh, tetapi bagaimana saat kita hadir itu berkualitas," jelasnya.

Kegiatan sederhana seperti membacakan buku, makan bersama di meja makan, atau menanyakan kabar anak bisa menjadi momen berharga. Akhir pekan juga bisa dimanfaatkan untuk berjalan pagi, pergi ke ruang terbuka, atau memberikan permainan edukatif.

Manfaat Nyata bagi Anak yang Ayahnya Aktif Terlibat

Intan memaparkan temuan survei yang menunjukkan anak dengan ayah aktif dalam pengasuhan cenderung punya pola komunikasi lebih baik. Mereka juga lebih mampu memahami instruksi dan lebih percaya diri.

"Ada survei yang menarik nih, Mas Rizki. Ternyata anak yang ayahnya itu terlibat secara aktif dalam pengasuhan, dia akan memiliki pola komunikasi yang lebih baik seperti komunikasinya jelas, kemudian juga dia itu bisa memahami instruksi dan dia lebih percaya diri," lanjut Intan.

Keterlibatan ayah sejak sebelum anak lahir hingga mendampingi tumbuh kembangnya menjadi fondasi keluarga sehat. Pembagian peran yang seimbang antara ayah dan ibu bukan sekadar soal keadilan, tetapi investasi jangka panjang bagi kesehatan mental anak dan ibu.

Reporter: Afrizal Hidayat
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top