KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kami menguji Samsung Galaxy Z Fold8 selama beberapa hari sebagai daily driver, menjalankan aplikasi benchmark standar seperti AnTuTu, Geekbench 6, PCMark, hingga 3DMark Wild Life Stress Test. Fokus utama pengujian ini adalah mencari tahu seberapa kencang chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy bekerja, dan seberapa cepat performanya menurun saat suhu naik.
Dengan prosesor kustom yang punya prime-core Oryon V3 Phoenix L hingga 4,74 GHz, Galaxy Z Fold8 mencetak skor AnTuTu 3.264.600 poin. Angka ini menempatkannya sebagai salah satu foldable paling kencang yang pernah kami uji, tapi bukan yang tertinggi di kelasnya.
Menariknya, skor ini justru kalah dari smartphone lain dengan chip Snapdragon 8 Elite Gen 5 versi standar. Kami menduga Samsung sengaja mengatur tuning performa tidak terlalu agresif. Alasannya jelas: Galaxy Z Fold8 tidak punya vapor chamber, melainkan hanya mengandalkan struktur pendingin grafit demi menjaga profil bodi yang tipis dan kompak. Konsekuensinya, sistem membatasi konsumsi daya agar suhu tidak cepat melonjak.
Untuk penggunaan harian, hasil benchmark menunjukkan performa yang sangat responsif. Skor Geekbench 6 single-core 3.557 poin dan multi-core 10.931 poin berarti membuka aplikasi, berpindah menu, hingga multitasking dengan layar 7,6 inci terasa mulus tanpa jeda. Skor PCMark Work 3.1 yang mencapai 19.822 poin juga menegaskan bahwa perangkat ini sangat mumpuni untuk aktivitas produktivitas seperti mengolah dokumen atau mengedit video ringan.
GPU-nya pun kuat di awal. Pada 3DMark Wild Life Stress Test, loop pertama menghasilkan skor 22.335 poin dengan frame rate 197 FPS. Namun, masalah muncul di loop-loop berikutnya. Skor langsung turun drastis ke 19.168 di loop kedua, lalu 17.544 di loop ketiga, dan terus merosot hingga titik terendah 11.355 poin. Stabilitas keseluruhan hanya 50,8 persen.
Artinya, untuk sesi gaming berat yang panjang, performa grafisnya akan turun hingga setengah dari kemampuan maksimalnya. Kami mencatat suhu baterai mencapai 40,5 derajat Celcius dan CPU menyentuh 51,2 derajat Celcius saat pengujian. Di dunia nyata, bodi belakang bagian atas dekat kamera terasa hangat saat digenggam.
Alih-alih untuk gaming kompetitif, kekuatan utama Galaxy Z Fold8 justru terasa saat digunakan untuk produktivitas. Layar dalam Dynamic LTPO AMOLED 2X beresolusi 1.828 x 2.448 piksel sangat nyaman untuk membuka dua aplikasi bersamaan—misalnya membaca referensi sambil menulis dokumen.
Fitur AI anyar bernama My FanCam juga menjadi nilai jual utama. Fitur ini memanfaatkan AI untuk melacak dan membingkai objek secara otomatis saat merekam video, sebuah kemudahan yang tidak dimiliki kompetitor langsungnya seperti Oppo Find N6 yang ditenagai chip 7-core.
Samsung Galaxy Z Fold8 adalah mesin produktivitas yang sangat kencang dengan AI cerdas, tapi bukan pilihan ideal untuk mobile gamer berat. Jika kebutuhanmu adalah multitasking, mengonsumsi konten, dan memanfaatkan AI untuk bekerja, perangkat ini terasa sepadan. Namun, jika prioritasmu adalah sesi gaming panjang dengan performa stabil, smartphone ini akan mengecewakan karena panas yang cepat menurunkan frame rate.