PANGKALPINANG — Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) pada triwulan II 2026 mencapai 4,01 persen secara tahunan. Perlambatan tipis dari 4,53 persen di triwulan sebelumnya dinilai masih dalam tren yang sehat, terutama karena permintaan domestik yang solid.
Rommy menegaskan bahwa daya tahan ekonomi daerah tidak lepas dari meningkatnya aktivitas masyarakat selama momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha. Geliat ekonomi juga terlihat dari sektor penyediaan akomodasi, makan minum, hingga konstruksi yang mencatatkan kinerja positif.
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ditopang oleh sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, administrasi pemerintahan, pertahanan, konstruksi, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan. BI mengamati adanya peningkatan aktivitas di warung makan dan warung kopi yang berjalan beriringan dengan implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Pertumbuhan ekonomi Babel pada triwulan II 2026 sebesar 4,01 persen (yoy) menunjukkan kondisi yang tetap positif dan cukup tangguh meskipun menghadapi tantangan dari perlambatan ekonomi global,” ujar Rommy dalam keterangan resminya, Kamis (6/8/2026).
Selain MBG, pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih turut menggerakkan ekonomi di tingkat akar rumput. Aktivitas keagamaan, sosial, budaya, hingga festival daerah juga berkontribusi pada perputaran uang masyarakat.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Babel didorong oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, serta konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT). Realisasi belanja pegawai, barang dan jasa, serta belanja modal menjadi penyumbang utama.
Pencairan gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN) disebut memberikan suntikan signifikan terhadap daya beli. Investasi yang tercermin melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga mencatatkan pertumbuhan positif pada periode yang sama.
Di tengah optimisme tersebut, BI mencatat sektor industri pengolahan dan pertambangan belum mampu memberikan kontribusi optimal terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Kedua sektor ini masih menghadapi tantangan dari sisi permintaan global dan biaya produksi.
Meski demikian, Rommy optimistis tren positif akan berlanjut sepanjang tahun 2026. Pemerintah daerah diharapkan terus mempercepat realisasi belanja dan menjaga stabilitas harga pangan agar daya beli masyarakat tetap terjaga hingga akhir tahun.