KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kabar ini datang dari video ETA Prime yang diunggah pekan lalu. Ia memakai laptop ASUS Zenbook A16 dengan prosesor Snapdragon X2 Elite Extreme, lalu menghubungkannya ke eGPU dock AOOSTAR AG03 Thunderbolt 5 & OCuLink. GPU yang dipasang adalah NVIDIA RTX 4060, dan hasilnya di luar dugaan: laptop non-gaming ini bisa melahap game AAA dengan setting tinggi.
Dalam video tersebut, ETA Prime menguji beberapa judul besar. Cyberpunk 2077 berjalan di setting high dengan frame rate 40-an fps tanpa frame generation. Setelah fitur itu diaktifkan, angkanya naik ke 70-an fps. Game lain seperti Forza Horizon 6, Project Cars 2, dan DOOM: The Dark Ages juga tampil mulus dengan pengaturan yang cukup tinggi.
Angka ini impresif untuk laptop yang awalnya tidak dirancang untuk gaming. Namun perlu dicatat, performa ini bukan hasil dukungan resmi dari NVIDIA maupun Qualcomm. ETA Prime memakai developer driver RTX Spark yang sebenarnya ditujukan untuk GPU NVIDIA lain, lalu dimodifikasi agar bisa membaca RTX 4060.
Masalah utama ada di sisi driver dan optimasi game. Snapdragon X2 Elite sebenarnya punya daya komputasi prosesor yang kencang. Tapi grafis terintegrasinya (iGPU) masih jauh di bawah GPU diskrit, dan dukungan untuk Windows on Arm belum merata.
Banyak game PC modern dibuat untuk arsitektur x86. Saat dijalankan di laptop Arm, game tersebut harus melewati lapisan emulasi yang menguras performa. Belum lagi masalah driver GPU yang sering tidak stabil. Contoh nyata terlihat di game Halo: Campaign Evolved yang diuji Ghobso Gaming—teksturnya hilang dan lantai jadi transparan karena emulasi yang tidak sempurna.
Eksperimen ETA Prime dan Ghobso Gaming bukan rekomendasi untuk pengguna awam. Proses setup-nya rumit, memakai driver tidak resmi, dan tidak semua GPU NVIDIA bisa berjalan. Tapi hasil ini jadi bukti teknis bahwa chip Snapdragon X2 Elite sebenarnya mampu diajak main game berat asalkan ada dukungan yang memadai.
Jika NVIDIA mau merilis driver eGPU resmi untuk Windows on Arm, dan developer game mulai menyertakan build native Arm, lanskap gaming laptop bisa berubah. Pengguna Windows 11 on Arm tidak lagi terbatas pada game ringan atau cloud gaming.
Di pasar lokal, laptop Snapdragon X Elite dan X2 Elite masih jarang dilirik untuk gaming karena stigma performa grafisnya lemah. Eksperimen ini menunjukkan batasan tersebut bukan harga mati. Namun untuk saat ini, jika kebutuhan utama Anda adalah gaming, laptop gaming konvensional berbasis x86 dengan GPU RTX masih jauh lebih praktis dan bebas repot.
Untuk yang penasaran dengan perkembangan Windows on Arm, eksperimen ini layak diikuti sebagai indikator arah masa depan. Tapi jangan jadikan ini dasar pembelian laptop Snapdragon untuk gaming dalam waktu dekat. Tunggu sampai driver resmi dan dukungan developer benar-benar hadir.