PANGKALPINANG — Perbaikan tata kelola pertambangan bijih timah mulai menuai hasil nyata. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat nilai ekspor komoditas timah pada Juni 2026 menembus 167,61 juta dolar AS, menguat signifikan dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 129,48 juta dolar AS.
Kepala BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sugeng Arianto, menyebutkan lonjakan ini tak lepas dari pengelolaan tambang yang kian tertib. "Tata kelola penambangan timah sudah semakin baik, sehingga berdampak terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas produk timah ini," ujarnya di Pangkalpinang, Selasa.
Berbanding terbalik dengan timah, kinerja ekspor komoditas nontimah Babel justru merosot. Pada Juni 2026, nilai ekspor nontimah tercatat 20,91 juta dolar AS atau terkontraksi 28,68 persen dibanding Juni 2025 yang mencapai 29,32 juta dolar AS.
Meski kondisi geopolitik dan ekonomi global tengah tidak menentu, Sugeng memastikan pengiriman timah ke berbagai negara tujuan tidak mengalami hambatan. "Ekspor timah ke berbagai negara tujuan tidak ada masalah dan berjalan lancar," katanya.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, total nilai ekspor timah Babel ke lima negara utama mencapai 689,11 juta dolar AS. Pangsa pasar mereka mencakup 79,83 persen dari seluruh tujuan ekspor komoditas ini ke dunia.
Membaiknya nilai ekspor ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian Babel yang selama ini bertumpu pada sektor pertambangan. Perbaikan tata kelola tidak hanya berdampak pada kualitas produk, tetapi juga memperkuat posisi tawar timah asal daerah ini di pasar internasional.
Dengan permintaan yang tetap stabil dari negara-negara Asia, tren peningkatan ini diharapkan berlanjut pada semester kedua 2026. Data BPS berikutnya akan menjadi indikator apakah momentum pertumbuhan ini mampu dipertahankan di tengah gejolak ekonomi global.