Nurosym di Indonesia: Stimulasi Saraf Vagus Rp 13 Juta, Meredakan Stres atau Sekadar Efek Placebo?

Penulis: Syahrul Karim  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 07:03:01 WIB
Seorang pengguna menunjukkan perangkat Nurosym yang dipasang pada daun telinga untuk stimulasi saraf vagus.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Wearable tidak melulu soal menghitung langkah atau memonitor detak jantung. Di tengah dominasi smartwatch dan smart ring, muncul kategori baru yang bekerja lebih dalam: neurotech. Salah satu perangkat yang menyita perhatian adalah Nurosym, alat stimulasi saraf vagus yang diklaim mampu mengaktifkan sistem saraf parasimpatetik untuk merilekskan tubuh. Dibanderol dengan harga premium, perangkat ini menyebut diri sebagai stimulator saraf vagus paling banyak diteliti di dunia.

Apa yang Membuat Nurosym Berbeda dari Wearable Lain?

Nurosym tidak mengandalkan sensor optik seperti kebanyakan wearable. Alat ini mengirimkan sinyal listrik ringan ke saraf vagus melalui daun telinga. Pengguna cukup membasahi tragus—bagian tulang rawan kecil di depan lubang telinga—memasang klip, lalu mengatur intensitas hingga terasa sensasi kesemutan. Metode ini dikenal sebagai stimulasi saraf vagus transkutan (tVNS), pendekatan yang sebelumnya hanya bisa dilakukan lewat prosedur invasif di fasilitas medis.

Dr. Greta Dalle Luche, Head of Science Nurosym, menjelaskan bahwa perangkat ini merupakan hasil terjemahan sains neuromodulasi menjadi teknologi harian. "Untuk waktu yang lama, neuromodulasi identik dengan prosedur invasif atau perawatan di lingkungan khusus. Nurosym menunjukkan bagaimana sains ini dapat diterjemahkan menjadi teknologi non-invasif yang cocok dengan kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Hasil Uji Coba: Data Garmin Menunjukkan Perbaikan, tapi...

Uji coba berlangsung selama tujuh hari dengan pemantauan respons tubuh menggunakan Garmin Cirqa. Prosedurnya sederhana: duduk tenang selama 15 menit untuk menstabilkan detak jantung, lalu menjalani sesi stimulasi selama 25 menit. Hasilnya, grafik detak jantung menunjukkan penurunan lonjakan signifikan, terutama di menit ke-10 hingga ke-17—indikasi awal bahwa stimulasi saraf vagus bekerja.

Selama sepekan pemakaian, tercatat peningkatan kualitas tidur dan kenaikan drastis pada heart-rate variability (HRV), metrik yang sering dikaitkan dengan tingkat pemulihan dan ketahanan stres. Namun, hasil ini bersifat subjektif dan sulit diukur secara objektif dalam waktu singkat. Faktor lain yang mungkin berkontribusi adalah rutinitas 30 menit tanpa layar yang dipaksakan oleh sesi pemakaian, yang secara alami menenangkan sistem saraf.

Harga Rp 13 Juta: Apakah "Sepertinya Berhasil" Cukup?

Nurosym dibanderol US$699 (sekitar Rp 13 juta) di pasar global. Angka ini jauh di atas rata-rata harga smartwatch premium. Menanggapi hal ini, Dr. Dalle Luche menegaskan bahwa harga tersebut mencerminkan investasi riset yang panjang, bukan sekadar biaya produksi. "Ini mencerminkan lebih dari satu dekade penelitian dan pengembangan ilmiah, teknologi proprietary, pengujian keselamatan yang ekstensif, serta investasi berkelanjutan dalam riset klinis," jelasnya.

Dibandingkan perangkat wellness murah dengan klaim dipertanyakan, Nurosym menawarkan jaminan keamanan dan validitas ilmiah. Namun, pertanyaan besarnya tetap: apakah efek yang dirasakan benar-benar berasal dari stimulasi listrik atau sekadar efek placebo dari rutinitas relaksasi? Untuk pengguna yang mencari cara meningkatkan fokus dan kualitas istirahat, perangkat ini bisa menjadi pilihan menarik. Namun, untuk pasar Indonesia, harga setara HP flagship membuatnya hanya terjangkau segmen spesifik: pengguna yang serius menekuni biohacking dan menginginkan perangkat berbasis bukti ilmiah, bukan sekadar gimmick. Ke depannya, jika harga bisa ditekan, teknologi ini berpotensi menjadi kategori baru yang menarik di pasar wearable global.

Reporter: Syahrul Karim
Sumber: techradar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top