PANGKALPINANG — Kontingen Bangka Barat pulang dengan kepala tegak dari Kejurprov Tenis Meja Babel 2026. Mereka mengoleksi tiga medali emas dan dua perunggu. Satu emas dan satu perunggu tambahan dipersembahkan Amar Algifari di kategori kelompok umur 15 putra.
Azkiya yang merupakan putri dari Kepala Desa Ketap, Asyro Hasbar, kini tercatat sebagai siswi baru SMKN 1 Parittiga. Sebelum Kejurprov, ia sudah lolos seleksi Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) mewakili Bangka Barat.
Berkat hasil di Kejurprov, Azkiya bersama atlet lainnya akan mewakili Bangka Belitung pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Tenis Meja 2026 di Lampung. Deretan prestasi itu membuktikan bahwa Bangka Barat memiliki atlet potensial yang mampu bersaing hingga level nasional.
Di balik sederet medali, perhatian dan dukungan terhadap atlet berprestasi di Bangka Barat dinilai masih belum sebanding dengan pengorbanan mereka. Sebagian besar biaya pembinaan dan perlombaan masih ditopang secara mandiri oleh keluarga atlet.
Kondisi ini menjadi ironi tersendiri. Di satu sisi, daerah berhasil melahirkan atlet muda yang konsisten juara. Di sisi lain, dukungan sistematis dari pemerintah daerah atau sponsor belum optimal.
Belum ada pernyataan resmi dari Dinas Pemuda dan Olahraga atau Pemkab Bangka Barat terkait rencana pembinaan atlet tenis meja ke depan. Padahal, ajang Kejurnas di Lampung membutuhkan persiapan matang, baik dari segi teknis maupun pendanaan.
Jika tidak segera ada perubahan pola pembinaan, kekhawatiran akan hilangnya bibit atlet potensial karena faktor biaya bisa menjadi kenyataan. Azkiya dan Amar adalah contoh nyata bahwa prestasi bisa lahir dari keterbatasan, tapi tidak selamanya keterbatasan bisa ditutupi oleh kerja keras semata.